Oleh: firman prawiradisastra | Januari 28, 2008

semuanya itu kecil….

Pagi tadi seperti biasa di hari sabtu adalah jadwal rutin pengajian bareng temen-temen, hari-hari sekarang terasa lebih pendek, ya… jadwal kerja rutin emang bikin kayak gitu, ga kerasa udah weekend lagi ntar senen lagi, ntar udah sabtu lagi… yeah that’s my life now. Masih kebayang tugas dari kantor yang belum sempet dikerjain dan harus dikumpulin hari senen tugas hafalan dari ustadz (weh..weh.. belom sempet euy) padahal target dua surat per bulan (?_?)…. ditambah permasalahan lain yang juga belum sempet selesai, pusing juga kalo dipikirin sekarang… akhirnya berangkat juga ke tempat pengajian.

Sampe sana ustadz udah datang, temen-temen juga udah ngumpul. Kita biasa ngumpul di tempat temen yang ga bisa kemana-mana kenapa?? sahabat saya ini sedang ada musibah yang mungkin kalo bukan dia ga akan sanggup nahan bebannya… istri beliau terkena kanker payudara dan sampe saat ini masih terbaring di rumahnya tak bisa bergerak… (Ya ALLAH… berikan yang terbaik untuknya).

Luar biasanya beliau yang paling pertama nyambut saya dengan senyuman khasnya di depan pintu rumahnya (jujur saya pengen nangis terharu..it’s touch my heart..really) beliau dengan beban yang begitu berat masih sempat-sempatnya nyambut saya dengan senyuman yang seolah-olah tanpa ada beban hidup (Ya Allah saya ga ada apa-apanya dibandingin dengan dia…..ALLAH….ALLAH). Melihat senyuman saudara saya ini beban sehari-hari saya langsung hilang berganti dengan semangat hidup baru (terima kasih ya ALLAH engkau berikan saudara yang baik ini….).

Setelah itu saya salami ustadz, ya Allah keteduhan wajahnya membuat hati tenang, beliau ini kepala sekolah di sebuah sd swasta dengan penghasilan yang pas-pasan tapi sekali lagi tidak ada nampak ada keluhan beban hidup di wajahnya. Padahal beliau punya majelis taklim dimana-mana kadang-kadang saya liat beliau baru pulang pengajian malem2 Lalu saya salami juga yang lain satu persatu… (ah..good to see them all), singkat cerita saat itu ustadz ngebahas tafsir surat al-muddassir… satu ayat yang langsung kena di hati saya yaitu ayat ke 3 yang bunyinya ” wa rabbaka fa kabbir” (dan Rabb-mu Agungkanlah). Ustadz menafsirkan dengan kalimat yang makin membuat hati miris melihat diri sendiri begini katanya “ya akhi(saudaraku)… semua itu kecil hanya ALLAH yang besar, beban hidup kita, permasalahan kita, harta, jabatan semua adalah kecil….”. Subhanallah beginilah mungkin pandangan hidup seseorang yang benar-benar memahami Al-Qur’an :semua kecil hanya ALLAH yang besar, yup langsung saya catet dan inget2 supaya ga lupa.

Beginilah mungkin Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf dan sahabat lainnya memandang dunia. Abu bakar yang pernah suatu kali menyumbangkan seluruh hartanya dan ketika ditanya apa yang ditinggalkan untuk keluarganya dia jawab: ALLAH dan Rasul-NYa. Astaghfirullah… saya kasihan sama diri saya. Atau Umar yang ketika menjadi khalifah yang menguasai 2/3 bumi tidur siang dibawah pohon kurma di jalanan madinah, di malam hari berjalan-jalan di kota madinah khawatir ada rakyatnya kelaparan dan memikul gandum sendiri untuk memberi makan seorang wanita dan anaknya.. ketika pengawalnya ingin membantu dia marah dan berkata: “apa kamu ingin memikul dosa saya nanti…”. Mereka berdua telah dijamin surga oleh rasulullah SAW tapi bagi mereka “semua kecil hanya ALLAH yang besar”. Tak ada artinya harta, jabatan, pekerjaan kalau tidak bermanfaat buat orang banyak, buat agama ini.

Ya ALLAH ampuni dosa saya

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS 2:214)

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (3:133-136)

Oleh: firman prawiradisastra | Oktober 25, 2007

Nikah…

Menurut saya pernikahan punya peran besar dalam membangun sebuah generasi.
Oleh karena itu ketika seorang laki-laki memutuskan untuk menikah, menurut saya yang harus ia pikirkan bukan
hanya apakah wanita ini cocok bagi saya. Tapi, apakah wanita ini pantas menjadi ibu dari anak-anak saya.
Apakah ia punya kemampuan untuk membina putra-putrinya menjadi anak yang sholeh misalnya, atau bisakah saya
mempercayakan harta saya kepadanya, bisakah ia menjadi pemimpin di rumah ketika saya tidak ada.

Untuk yang wanita mungkin bukan hanya ganteng atau badannya kekar. Tapi, apakah ia bisa memimpin
untuk menjadi lebih baik bisakah ia menuntun menuju surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa.

Jadi ukurannya bukan hanya cantik atau ganteng, badannya bagus atau tidak,
boleh-boleh saja ditentukan berdasarkan kedua hal itu, tapi ada hal lain juga yang harus dipikirkan.
Karena menikah bukan cuma kita memenuhi kebutuhan biologis semata tetapi jauh dari itu
adalah membangun peradaban yang lebih baik. Sebuah generasi yang lebih baik dari generasi saat ini,
yang akan melanjutkan tugas kita mengelola bumi. Oleh karena itu salah satu pahala yang ga akan pernah putus
ketika kita wafat adalah adanya anak yang sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya. Itu harus dimulai
ketika memilih pasangan.

Oleh: firman prawiradisastra | Oktober 25, 2007

Cinta….

Semakin dalam kita mencintai seharusnya semakin siap pula kita menahan sakitnya kehilangan….kecuali yang kita cintai adalah sesuatu yang abadi yang tak lekang oleh jaman. Tapi memang biasanya yang tak abadi itu malah terlihat lebih indah dan menggoda…..
wajah… fisik… memang kelihatan lebih indah tapi ketika itu dijadikan pondasi cinta, bersiaplah kecewa…..
Tapi hati tak pernah lekang oleh zaman, perbuatan baik dan akhlak mulia akan tetap melegenda…
Kenapa ya rasul sampai bilang namanya nikah itu menyempurnakan setengah agama apakah cinta jawabannya apakah mungkin karena didalamnya ada ketulusan pengorbanan, berbagi kebahagiaan, berbagi sedih dan duka, kebersamaan menanggung beban.
Maha suci Allah yang menganugrahkan cinta suci kepada sepasang manusia.

“Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman
hingga kamu saling mencintai (karena Allah). Apakah kamu mau jika aku
tunjukkan pada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling
mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu!” (HR. Muslim)

‘Barangsiapa memandang saudaranya dengan pandangan penuh kasih sayang,
maka Allah swt. akan mengampuni dosa-dosanya.’ Allah swt. berfirman,
“Bersabarlah kalian bersama-sama dengan orang yang menyeru Rabb-nya dipagi dan
senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, janganlah kedua mata kalian berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini dan janganlah kalian mengikuti orang yang hati-nya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menu-ruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas.” (Al-Kahfi: 28)

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya
sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no.13-Muslim no.45)

« Newer Posts

Kategori