Oleh: firman prawiradisastra | April 20, 2009

Subhanallah inikah jakarta???

Setelah sekian lama tak menulis dan posting saya rasa tulisan ini sangat penting untuk kita ambil hikmahnya…

Dari email seorang teman….

Barusan browsing ke Blog temen , trus dapet cerita begini…:
Suatu kenyataan betapa egoisnya warga Jakarta, bahkan untuk sesuatu yang hukumnya Fadhu Kifayah seperti mengubur jenazah. Sebuah kenyataan yang sangat sedih..

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger

Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu..
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karen atidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.

Oleh: firman prawiradisastra | Oktober 20, 2008

Maafkan Aku Isteriku…

oleh Al Furqan Jumat, 17 Okt 2008 12:39

Emak, saya dibesarkan oleh Emak dengan penuh perhatian. Emaklah yang memandikan saya dan adik-adik hingga saya mampu untuk mandi sendiri. Saya dan adik-adik hanya berbaris di depan sumur lalu Emak menguyur tubuh kami dengan ember yang berisi air yang ditimba dari dalam sumur.

Emaklah yang memakaikan seragam sekolah hingga menyuapi sarapan pagi. Saya hanya tinggal buka mulut, suapan tangan Emak pun masuk ke mulut saya. Lalu Emak akan mengantar kami ke sekolah. Setelah itu Emak kembali ke rumah untuk mengurus Bapak.

Bapak, saya tak pernah dekat dengan Bapak. Bukan karena Bapak saya orang jahat. Bukan karena saya tak pernah mencurahkan gundah di hati saya. Bukan karena Bapak tak pernah memeluk saya dengan hangat. Bukan karena Bapak tak pernah tertawa dengan gurau yang saya lontarkan.

Entahlah hati saya merasa jauh dari Bapak. Kami memang saling menyapa, tetapi semua itu hanya basa-basi. Saya dan Bapak tidak pernah berbicara mengenai perasaan kami. Saya tak pernah mendengar ungkapan cinta dari bibir Bapak. Saat Bapak memeluk, saya merasa dipeluk oleh mahluk asing. Hambar, tak ada gejolak.

Berbeda ketika Emak memeluk saya. Saya merasa begitu damai dan aman. Saya seperti mendengar nyanyian merdu dari dalam dadanya. Tubuhnya begitu hangat membuat saya betah berlama-lama dalam pelukan Emak sehabis mandi pagi.

Pada Emaklah saya banyak bercerita. Tentang sekolah dan teman-teman saya. Juga saat pertama kali saya suka pada teman wanita saya. Emak mengajarkan saya banyak hal. Tetapi Emak tak pernah mengajarkan saya pekerjaan rumah. Emak bilang itu pekerjaan perempuan.

Bapak, tak pernah mengajari saya. Bapak memberikan hadiah sepeda tetapi tidak mengajari saya naik sepeda. Bapak membelikan saya kelereng, tetapi tidak mengajari saya cara menggunakannya. Bapak membelikan saya layangan tetapi tidak menemani saya bermain layangan. Hanya Bapak sering berkata bahwa saya tidak boleh cengeng. Lelaki tidak boleh menangis. Jadi laki-laki harus kuat dan tegar.

Saya sering memperhatikan Emak mencuci piring. Melihat busa yang dihasilkan oleh sabun colek yang Emak pakai. Saya ingin membantu Emak agar saya dapat bermain dengan sabun tersebut. Tetapi Emak melarang saya, malah Emak meminta saya untuk bermain layangan dengan teman-teman saya di depan rumah.

Saya ingin membantu Emak di dapur, tetapi lagi-lagi Emak berkata itu pekerjaan perempuan. Malang sekali perempuan, pikir saya saat itu. Apalagi saya tak pernah melihat Bapak membantu Emak mengurus kami ataupun membantu Emak di rumah. Semuanya dilakukan oleh Emak. Kata Emak karena Bapak sudah capek bekerja mencari uang, lagi pula semua itu tugas perempuan.

Suatu ketika saat bermain kelereng saya berkelahi dengan seorang anak lelaki seusia saya. Tetapi badannya lebih kecil. Saya pukul dia hingga badannya babak beluk. Teman-teman saya tidak ada yang memisahkan kami. Bahkan mereka menyemangati kami. Hingga akhirnya Bapak anak yang saya pukul datang lalu memisahkan kami.
“Anak siapa kamu?! Anak kurang ajar! Dimana Ibumu?!” Lelaki itu menghardik saya. Lalu membawa saya pulang. Dia pun menghardik Emak. Katanya Emak tidak becus mengurus dan mendidik saya hingga saya menjadi anak kurang ajar. Rasanya saya ingin menghajar lelaki tersebut yang berani memaki Emak.

Kasihan Emak. Sejak saat itu saya tak nakal lagi. Saya tak ingin Emak yang disalahkan karena kenakalan saya. Tak ingin Bapak marah pada Emak karena perbuatan saya.

Saya mulai beranjak remaja, di sekolah saya sering menjadi juara kelas. Bapak datang mengambil rapor saya. Bapak dipuja oleh kepala sekolah dihadapan orangtua yang lainnya. Saya pun bertanya dalam hati, mengapa Bapak yang dipuja ketika saya berprestasi. Bukankah Emak yang telah mengajari saya?

Setamat SMA saya melanjutkan kuliah di kota lain. Saya mulai aktif di kegiatan masjid. Saya mulai belajar tentang agama saya. Juga mengenai peran perempuan yang sebenarnya. Tidak seperti yang selama ini saya dapat dari Emak. Dan Emak mendapatkannya dari nenek saya.

Ketika musim libur saya kembali ke rumah. Di rumah Emak mengurus saya sama seperti saya waktu kecil. Saya ingin menolaknya. Tetapi setiap kali melihat kebahagian di mata Emak saat menghidangkan makanan di hadapan saya, keinginan tersebut lenyap. Begitu juga saat saya ingin membantu Emak membersihkan rumah. Emak melarang saya dan meminta saya duduk di serambi rumah dengan Bapak. Hati saya merasa tak nyaman melihat Emak bekerja sementara Bapak hanya duduk sambil menghisap rokok ditemani secangkir kopi.Tetapi saya tak bisa berbuat apa-apa. Saya pun memenuhi permintaan Emak duduk di sebelah Bapak, tetapi kami hanya saling membisu. Seperti dua mahluk yang berbeda, tak tahu harus berkata apa.

Setelah saya selesai kuliah, saya pun menikah dengan teman kuliah saya yang berasal dari kota yang sama. Seperti Emak, isteri saya mengurus saya dan rumah dengan baik. Walaupun dia juga bekerja sebagai karyawati di sebuah perusahaan. Saya mulai merasakan sesuatu yang salah dalam diri saya. Rasanya saya sudah terbiasa hidup dilayani. Saya sudah terbiasa hidup seperti raja, walaupun saya tahu itu tidak benar. Seharusnya saya membantu isteri saya di rumah, tetapi saya tidak terbiasa untuk itu. Dari kecil saya tidak dilatih untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Isteri saya tidak pernah mengeluh, walaupun saya tahu tubuhnya sangat letih. Dia selalu berkata ingin menjadi isteri yang baik. “Isteri harus berbakti dan melayani suami,” pesan ibu mertua pada isteri saya.

Saat anak pertama saya lahir, ada rasa bahagia dan takut dalam diri saya. Entahlah saya takut tak dapat mendidiknya dengan baik. Apalagi saya tak pernah melihat Bapak mengajari kami ataupun menasehati kami tentang kehidupan. Saya tak tahu harus mencontoh siapa dalam mendidik putra saya.

Setelah melahirkan, isteri saya tinggal di rumah, mendapat cuti dari kantornya. Dia pun merawat bayi kami dengan baik. Malam hari ketika bayi kami menangis, isteri saya berusaha menenangkan tanggisan tersebut. Bayi kami dibawa keluar kamar. Isteri saya tak ingin tidur saya terganggu dengan tanggisan tersebut. Ketika saya ingin menenangkan bayi kami, isteri saya meminta saya kembali tidur. Dengan alasan besok saya harus masuk kerja, sedangkan dia tak perlu ke kantor. Saya pun menurut, lagi pula saya memang ngantuk. Saya tak pernah berusaha meyakinkan isteri saya. Mungkin karena ada perasaan aneh saat saya harus mengurus bayi, atau karena saya sudah merasa keenakan dengan kebaikan isteri saya.

Isteri saya telah habis masa cutinya, tetapi perhatian pada bayi kami tidak berkurang. Dia tetap memberikan ASI. Saat pulang dari kantor isteri saya datang membawa ASI yang disimpan dalam botol-botol kecil. Walaupun isteri saya harus lembur tak lupa dia dengan kebutuhan bayi kami.

Hari itu, isteri saya pulang terlambat. Saya sudah terlelap tidur saat dia datang. Sedangkan bayi kami diurus oleh pengasuhnya sampai isteri saya datang. Isteri saya kembali ke rumah dalam keadaan sangat letih. Bayi kami menangis malam itu. Seperti biasa isteri saya bangun untuk menenangkan bayi kami. Tidak seperti biasanya malam itu isteri saya membiarkan bayi kami tetap berada di kamar sedangkan dia keluar untuk mengambil botol susu.

Saya baru saja akan terlelap dalam mimpi ketika saya mendengar teriakan dan dentuman dari arah tangga rumah kami. Segera saya loncat dari tempat tidur menuju suara tersebut. Jantung saya berpacu cepat seketika saat melihat di bawah tangga isteri saya tergeletak tak bergerak. Saya berusaha membangunkannya tetapi dia tidak juga bergerak. Rupanya ketika dalam keadaan letih, ngantuk dia berjalan dalam ruangan gelap menabrak ujung tangga dan terpeleset jatuh. Kepalanya menghantam tangga hingga ke lantai satu.

Setelah tak sadarkan diri selama lima hari, isteri saya pun pergi menghadapNya. Saya hanya dapat menyesali diri. Saya menyesal tidak membantu isteri saya dalam mengurus bayi kami malam itu. Padahal saya bisa memberikan ASI dalam botol tersebut. Saya tahu tugas sayalah melindungi isteri dan bayi kami. Tetapi mengapa saya ragu? Kini saya tak tahu bagaimana merawat dan membesarkan bayi. Bagaimana mendidiknya kelak. Saya tak pernah punya contoh. Isteriku, maafkan aku. (BR)

Dikutip dari eramuslim.com

Oleh: firman prawiradisastra | Oktober 13, 2008

Pasangan….

Kalo ditanya tentang apa si makna pasangan hidup itu??? apa itu artinya “aku memilikimu dan kau memilikiku??” (cia elaaa….) atau kau separuh nafasku kalau kau ga ada capek kali ya :D , atau apa sih kira-kira??. Ternyata…. konsep pasangan hidup itu sudah ada di al-qur’an (maklum kemaren baru ada yang ngasi tausyiah he.. he..). Kalo diliat di QS al-baqarah ayat 185 potongan ayat yang terakhir bunyinya “…hunna libasullakum wa antum libasullahunna” (…dia adalah pakaian bagimu dan kau adalah pakaian baginya). Wuiih apa maksudnya ini?? begini… begini… ya itulah luarbiasanya al-qur’an, kebanyakan pake bahasa kiasan dan kiasannya luar biasa indah.

Pakaian itu khan fungsinya melindungi kita dari lingkungan. Pakaian itu yang paling tahu aurat kita tapi dia ga pernah ngasi tau ke siapa-siapa alias diem aja (ya iyalah apa jadinya kalo pakaian bisa ngomong bisa2 ga ada yang mau make kali). Pakaian membuat orang yang memakainya jadi tambah cakep tapi pakaian juga harus dirawat karena kalau ga dia bisa lecek, usang karena pemakainya.

Subhanallah… begitulah perumpamaan pasangan hidup kita yang memang sudah ditetapkan ALLAH. Begitulah juga seharusnya fungsi kita terhadap pasangan kita. Melindungi tanpa pernah ngeluh. Membuat indah pemakainya dalam arti selalu membicarakan kebaikan pasangan kita selalu mencari kebaikannya tanpa pernah membuka aibnya. Tapi jangan lupa juga untuk merawat pasangan kita, merawat keimanannya, merawat jiwanya dengan kata-kata yang baik dan lembut agar ia jadi tegar menghadapi hidup.

Jadi sudah siapkah anda punya pasangan hidup ?? :p

Oleh: firman prawiradisastra | Maret 6, 2008

Let’s Be Wise People…

Oleh Setta
Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan mereka—pasangan yang saling mencintai itu. Dan anak itu adalah buah hati mereka. Suatu pagi di rumahnya, saat anak tersebut berumur dua tahun, sang ayah melihat sebuah botol obat yang terbuka. Akan tetapi, pagi itu dia sudah terlambat untuk ke kantor. Maka dia meminta isterinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari. Isterinya—karena kesibukannya di dapur, sama sekali lupa tentang pesan suaminya tersebut.

Anak itu melihat botol obat yang terbuka itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak menelannya semua. Obat tersebut adalah obat yang keras yang bahkan untuk orang dewasa sekalipun hanya dibolehkan dalam dosis kecil saja sekali minum. Sang isteri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. Sang isteri ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.

Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada isterinya dan mengucapkan tiga kata.
Ya, sang suami hanya mengatakan, “AKU BERSAMAMU, SAYANG.”

Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka itu adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang isteri—karena jika seandainya isterinya menyempatkan beberapa detik saja untuk menutup dan menyimpan botol tersebut, maka hal ini tidak akan terjadi.

Tetapi hal itu tidak dilakukannya. Dan memang tidak ada yang perlu disalahkan. Si isteri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yang si isteri butuhkan saat ini adalah penghiburan dari sang suami—dan itulah yang diberikan suaminya sekarang.

Suatu masa, saya pernah mengalami situasi di mana saya berada pada posisi seperti si isteri dalam kisah di atas.
Sore itu, saya baru menyelesaikan UAS hari terakhir setelah tiga minggu berjuang untuk mendapatkan nilai terbaik. Tetapi, saya sudah pesimis tidak akan bisa memenuhi target yang sudah saya canangkan di awal semester enam bulan sebelumnya. Bahkan ujian terakhir hari itu saya tutup dengan sangat mengecewakan. Saya hanya berhasil menjawab dengan yakin dua soal dari jumlah enam soal yang diujikan.

Ba’da maghrib, dengan perasaan bersalah dan menyesal karena merasa telah menyia-nyiakan amanah kuliah di semester itu, saya memberanikan diri mengabari orangtua via sms. Sungguh saya sudah ketakutan lebih dulu. Takut membayangkan reaksi mereka setelah membaca isi sms yang saya kirimkan—tentang kegagalan saya dalam menempuh UAS. Saya takut mereka akan memarahi saya saat itu juga.

Tak menunggu lama setelah dua sms saya terkirim, sebuah balasan dari ayah saya masuk. Dengan jari gemetar, saya memencet keypad untuk membaca sms itu.

“Alhamdulillah selesai tanpa aral. Yang penting, kami—ayah dan bunda—hargai adalah komitmen, keseriusan, dan progres ikhtiarnya. Out put-nya hanya untuk bahan evaluasi yang bersiklus….”

Adalah benar, sms itu masih berlanjut dengan nasihat-nasihat yang sangat menggugah relung hati saya dan sekaligus semakin memojokkan saya pada rasa bersalah yang semakin berlipat. Tetapi, coba bacalah “awalan” dari sms ayah saya di atas sekali lagi.

Beliau tidak memvonis saya bersalah secara langsung dan vulgar. Namun sebaliknya, pertama-tama beliau justru menenangkan hati saya dengan ucapan hamdalah karena saya telah berhasil menyelesaikan UAS tanpa halangan. Disusul kemudian dengan penghargaan atas usaha dan ikhtiar yang sudah saya lakukan—betapapun hasilnya sungguh mengecewakan. Sebelum menutupnya dengan nasihat yang menyejukkan kesedihan saya kala itu.

Ya, kedua orangtua saya tidak menambah beban kesalahan yang sesungguhnya sudah sangat berat saya rasakan saat itu.
Dan sungguh, saya mendapat pelajaran sangat berharga dari mereka, tentang bersikap “bijak” dalam menyikapi suatu permasalahan.

Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti mereka, maka insya Allah akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.
Wallahu a’lam.

Note:
[1] Dikutip dari artikel “Aku Bersamamu, Sayang.” (Anonim)
01 Muharam 1428 H 20 Januari 2007
re-writen 9 Pebruari 2008 01:00 a.m
Http://www.setta.blogs.friendster.com/the_way_to_paradise/

Seperti itulah hidup barakah dimana kita tersenyum menapaki berbagai situasi kehidupan bukan dengan emosi dan kemarahan.
so smile up… :)

Oleh: firman prawiradisastra | Maret 5, 2008

deep inside our heart….

Setiap orang pasti suka dengan yang baik-baik. Dan yang baik-baik itu saya yakin semua asalnya dari ALLAH saja.

Pernah saya ketemu ama orang yang.. “keliatannya” kurang baiklah di mata saya, suka minum-minum, kehidupan malem en macem-macem deh… (mohon maaf kalo ada yang begitu itu khan di mata saya…)

Yang bikin saya kaget, pernah satu kali dia bilang sama saya “man tolong cariin gua istri yang sholehah dong!!, gua pengen hidup gua tenang (lha emangnya sekarang ga tenang ya.. dalam hati saya berbisik…), gua percayain ya sama loe (nah lho emangnya saya siapa bisa cariin istri sholehah buat dia buat sendiri aja belom dapet… :) )”

Intinya begitu lah, selanjutnya pembicaraan mengalir ke masalah jodoh en nikah…

Saya berpikir, orang kayak dia aja pengennya istri sholehah (yang baik) bukan istri yang kayak dia juga (suka minum en clubbing dll), jadi dari kejadian yang saya alami tadi bisa diambil hikmah bahwa fitrah manusia /inside all of us sebenarnya adalah baik dan ga suka yang tidak baik .

Trusss dari mana dia tau istri sholehah tu yang kayak gimana.. itu yang ada dipikiran saya..
Jawabannya cuma satu waktu itu di kepala saya yaitu “from deep inside his heart..” ya..mungkin itu..
Ada sebuah hadist yang menyatakan “mintalah fatwa dari hatimu…” atau hadist lain yang berbunyi “dosa itu ketika hati kita merasa ga enak”. So ini juga menjelaskan bahwa setiap kita punya potensi kebaikan yang harus terus dirawat dan dipelihara sebaik-baiknya.

So if you want to know the truth, ask your heart….

Oleh: firman prawiradisastra | Maret 4, 2008

Rekomendasi…

Assalamu’alaikum
Ada sebuah buku bagus… cerita-ceritanya kalau boleh saya bilang benar-benar menginspirasi….
Judulnya : “Saksikan bahwa aku seorang muslim”
Yang nulis : SALIM A FILLAH
Kalau saya sempat nanti saya kutip beberapa cerita (sok sibuk :D )…
semoga bermanfaat!!

Oleh: firman prawiradisastra | Maret 3, 2008

Kesedihan Itu Indah….(another inspiring article)

Hidup adalah sebuah anugrah terindah di atas dunia. Disebabkan karena hidup maka ada kehidupan, pun bermula dari kehidupan maka kematian adalah suatu yang niscaya. Namun demikian kematian bukanlah sesuatu yang dapat merenggut arti sebuah geliat kehidupan. Kematian sendiri adalah sebuah keindahan manakala kita dapat memaknainya sebagai anugrah. Karena setiap yang berjiwa takkan pernah bisa lari dari kematian. Allah berfirman, “Walan yuakh khirallahu idza jaa a ajaluha” yang artinya “dan Allah tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah tiba ajalnya” (Qs Al-Munafiqun:11).

Adalah lumrah, wajar, jika kita menangis tiap kali menghadapi sebuah kematian, apalagi jika yang terjadi adalah kematian orang-2orang yang kita cinta seperti, ayah, ibu, suami dan anak. Tapi kematian orang-orang tercinta dapat menjadi sebuah pencerahan manakala dimaknai dengan sebuah keimanan, iman terhadap Qodarullah. Takdir yang sudah Allah tuliskan buat setiap jiwa saat dilahirkan. Terlebih bila mereka meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.

Dalam 38 tahun perjalanan hidupku, aku menghadapi semua kematian orang-orang kucintai. Tahun 1993 aku kehilangan ayahku, tahun 2003 ibuku wafat. Sejak itu aku hidup bersama 7 orang adiku. Kehidupan kami tidak lah sulit meski juga tidak mudah. Apalagi kami hidup dijakarta, bahu membahu kami berusaha lalui kehidupan dengan segala konsekwensi dan kompleksitasnya.

Seiring waktu berlalu, aku menikah 18 April 2004 dengan seorang laki-laki yang baik yang Allah takdirkan jadi suamiku. Dia laki-laki terbaik yang Allah berikan untukku. Cintanya membuat hidupku jadi lebih banyak berarti. Dia memberiku nafas kedua dalam banyak hal, memberi dorongan dan semangat dalam banyak hal, termasuk menulis sebagai hobbyku dan sebagai akupunturis yang kini kutekuni sbg pekerjaanku. Terlebih dari itu dia adalah guru terbaik buatku dalam memahami Islam sebagai jalan kehidupanku. Dimataku dia luar biasa di balik segala kekurangannya, di balik ringkih tubuhnya dan penyakit yang menderanya. Hidupku penuh kebahagiaan bersamanya, sampai maut memisahkan kami. Dia meninggal pada 18januari 2008 karena penyakit bocor jantung yang dideritanya sejak lahir.

Sejak itu aku merasa kesendirian yang menghempaskanku pada ketakberdayaan, kalaulah tidak karena kuingat ayat-ayat cinta dalam Al-Qur’an, maka aku akan kian terpuruk dalam duka. Perlahan aku coba maknai kematian suamiku sebagai sebuah kesembuhan buatnya dari penyakit yang dideritanya, dan harusnya aku bahagia karena dia lepas dari deritanya.

Aku belajar melalui hidup sendirian. Kusibukan diri dengan klinik ku yang dibangun oleh almarhum suamiku untukku, klinik itu diberinya nama Harmony Rumah Sehat Holistic. Setiap hari aku berkutat dengan pasien-pasienku hingga waktu berlalu dengan tak terasa.

Melihat kesendirianku apalagi jauh dari keluargaku, aku tinggal di kota kecil di solo sementara adik-adikku di jakarta, keluarga dan saudara juga sahabat-sahabatku ikut prihatin. Hingga mereka berusaha mengenalkanku dengan seseorang untuk jadi pendamping hidupku. Setelah melalui proses perkenalan, aku menikah ke 2 kalinya dengan laki-laki yang usianya 14 tahun lebih tua dariku. Mulanya kuharap pernikahanku akan semanis pernikahanku pertama. Tapi ternyata jauh panggang dari api.

Aku dan bahkan sahabat yang menjodohkanku dengannya tidak pernah menyangka kalau suamiku punya kebiasaan bercinta dengan perempuan lain, sampai akhirnya aku memergokinya bercinta dengan seseorang di sebuah hotel. Belum lagi suamiku ke 2 ternyata di balik kelembutan dan kata-kata manisnya berlaku sangat kasar padaku, aku kerap dipukulnya, hanya karena masalah sepele, seperti meletakkan handphone tidak pada tempatnya. Terakhir puncak kesabaranku habis, ketika dia menendangku dan aku terjerembab di kaki tempat tidur, meyebabkan aku pendarahan hebat, padahal saat itu sedang hamil 2 bulan, aku nyaris keguguran. Karena peristiwa itu, aku menggugat cerai, tapi dia semakin marah dan kalap. kuputuskan sementara meninggalkan Solo dan tinggal dengan ibu mertua dari almarhum suamiku pertama yang mengasihiku seperti anak kandungnya. Beliau tinggal di salah satu kecamatan di kabupaten cilacap.

Selama dalam masa hijrahku kerumah mertuaku, adikku memproses perceraianku dengan suamiku. Mulanya dia menolak menceraikanku, tapi adik-adiku terus menekannya. Kalau akhirnya dia menceraikanku, dia memberi syarat tidak akan bertanggung jawab secara financial atas janin dalam rahimku. Buatku hal itu bukan sebuah masalah besar, aku masih bisa menafkahi diriku dan janinku. Akhirnya kami resmi bercerai pada 8 februari 2008.

Kembali aku menjalani kehidupan sebagai seorang janda, bedanya kini ada janin dalam rahimku, yang harus kujaga dan kurawat dalam keadaan hatiku yang tidak stabil. Meski aku membenci ayah dari janinku, tapi aku mencintai janinku. Kulalui hari-hari dengan sering mengajak janinku bercakap-cakap, membacakan alqur’an bersamanya, menyanyi untuknya dan banyak hal lain yang membuatku bisa melupakan kesedihan dan luka hatiku.

Bulan demi bulan berlalu. Pada tanggal 7 Mei aku merasakan kontraksi pada rahimku, kutunggu sampai bukaan menjadi purna, tapu sampai sepekan kemudian, bukaan tanda persalinan belum juga bertambah, dokter bulang baru bukaan 2. Karena kondisiku yang lemah setelah 1pekan berlalu, pada 15 mei 2008 pk 20.00, dokter kandungan memutuskan aku harus menjalani operasi cesar. Dalam kesadaranli yang perlahan menurun karena pengaruh anestesi, aku mendengar tangis anakku, laki-laki, sangat keras. Mataku basah, hatiku basah, dalam hati kukatakan padanya “selamat datang didunia anakku sayang, ummi mencintaimu.” Aku baru meraih kesadaranku pk 23.30, ketika dokter mengatakan ternyata anakku mengalami Hipoglikemi, kadar gula darahnya cuma 5mg/dl dari normal 80mg/dl. Dalam usia 3 jam anakku harus diinfus glucosa.

Kehadiran putraku membuat hidupku lebih bercahaya, lelahku setelah berkutat dengan pasien sirna, saat memandang senyumnya, cahaya matanya, belum lagi kelucuan tingkahnya. Anakku tumbuh menjadi anak laki-laki yang tidak cengeng, tidak rewel, sangat mudah mengurusnya, inilah sisi kemudahan yang Allah beri buatku sebagai orang tua tunggal untuknya.

Tak terasa usianya 8 bulan sudah. dia mulai duduk, merangkak, dan belajar berjalan dengan baby walker. Celotehnya mulai ramai menghiasi rumah dan kehidupanku. Tawanya membuat hari-hariku merona bahagia. Aku suka menggelitik perutnya dengan ciumanku dan itu membuatnya tertawa-tawa kegelian, berteriak-teriak menggemaskan. Apapun bersamanya, semua terasa indah.(hari ni kututup tulisan sampai di sini karena aku harus berhenti menulis, perutku lapar )

Kebersamaan yang indah dengan putraku tercinta ternyata hanya berlangsung sekejap. Hari-hari manis bersamanya harus pupus. 21 januari 2008, mendadak anakku sakit muntaber pada pukul 16.00. Segala cara medis yang kutahu kuupayakan untuk kesembuhannya. Di bawah pengawasan seorang dokter, di sebuah RS. Pukul 4 dinihari dia mulai panas dan kejang-kejang sampai akhirnya koma di ruang ICU, hatiku perih, melihat keadaan putraku, berbagai selang tertancap ditubuh mungilnya. Mulai selang infus sampai ventilator. Kisaran oksigen ditubuhnya menurun sampai di bawah 50 dari kisaran normal harusnya 90-100. Detak jantungnya begitu cepat, terikan nafasnya memburu berpacu dengan waktu, kulit mulus tubuhnya jadi merah membiru pertanda hipoxy, kekurangan oksigen.

Aku tergugu di sampingnya, menangis. Tapi segera kusadar, anakku tidak butuh tangisku, dia lebih butuh semangat dariku. Perlahan kubisikan di telinganya, “Sayang, ummi tau kamu anak ummi yang kuat, ayo dek, kita sama-sama berjuang agar adek sembuh, kita bantu para perawat dan dokter dengan do’a kita ya nak, adek berdoa dengan cara adek, ummi juga berdo’a, semangat ya sayang…ayoo nak semangat….ayo cinta, ayo tarik nafas panjang biar oksigenmu sampai 100, ummi tau anak ummi ini pinter, kuat dan hebat”

“Ayo sayang kita melantun dzikir, Allahumasyfii nak…adek ingat, adek pernah berjuang waktu adek baru lahir, adek bisa dengan izin Allah meraih kondisi terbaik untuk glukosamu, ayo sayang…ummi yakin ade pejuang hebat, mujahid ummi yang tangguh, ayo sayang…dalam darahmu ada darah ummi, maka kamu juga harus kuat ya nak…karena ummi juga berusaha jadi ibu yang tangguh buatmu..ayo sayang terus..terus..terus hirup oksugen sebanyak-banyaknya nak biar adek sehat bisa bercanda lagi sama ummi.”

Menit demi menit berlalu, aku tak meninggalkkannya sedetikpun kecuali untuk sholat dan sekedar mengisi perutku dengan makanan karena aku butuh tenaga dan fisik yang sehat buat menjaga putraku. Pun makan kulakukan di sisinya.

Dengan sepenuh cintaku padanya aku berharap dalam do’aku agar Allah memberikan yang terbaik untuk kami. Aku masih terus membisikkan semangat cinta, dzikir cinta, kata-kata cinta untuknya, ketika perlahan dan perlahan oksigennya mencapai angka 90-100. Perawat bilang ini keajaiban. Dan Subhanallah…pukul 21.00, 22 Januari 2208, anakku sadar, dia menolehkan kepalanya dan tersenyum padaku…”alhamdulillah anak ummi sudah bangun, jazakallah ya nak, adek sudah berjuang untuk bisa senyum lagi untuk ummi.”

Kucium dan kubelai sayang putraku, dia tersenyum kian lebar dan berkata lirih, “mi….”

“Ya sayang, ummi di sini, adek istirahat ya nak, bobo lagi kalo ade ngantuk, ummi di sini menjagamu sayang….”

Kulantun dzikir dan doa sambil membelainya dengan cinta, dia tertidur sambil tersenyum. Tanpa kusadari, karena lelah, aku pun tertidur sambil duduk disisinya dan kepalaku rebah di sisi wajahnya.
Tiba-tiba kurasakan jilbabku ditarik-tarik, aku terbangun, ternyata anakku menarik-narik jilbabku dan tersenyum.

“Apa sayang? Maaf ummi tertidur, adek mau ngobrol lagi sama ummi?”
Anakku tersenyum manis, sangat manis…tapi tiba-tiba dia kejang…aku panik, dilayar monitor kubaca oksigennya drop..ya Allah…apa yang terjadi…? Baru saja dia sadar dan sekarang kembali kejang, aku panik dan berteriak…’ susteeeerrrrrrr…tooloong…!!!.”

Dalam sekejap perawat dan dokter berlarian menghampiri anakku. Mereka mengupayakan agar oksigennya kembali normal. Darahnya diambil lagi…ya Allah, air mataku menderas sambil terus berucap, “sayang..ayo nak..berjuang lagi, ayo dek, kamu pasti bisa, sayang…ummi mencintaimu nak, jangan menyerah nak..ayo sayang terus berjuang…”

Doa dan dzikir tak putus dari bibir dan hatiku. detik demi detik berlalu dalam kecemasan, sementara dokter dan para perawat terus berusaha menolong anakku.

Saat kularut dalam dzikir dan menyemangati anakku, dokter berkata, “bu, sudah ya diikhlaskan, putranya sudah pergi dengan tenang.”

Mataku terbelalak menatap anakku, serasa tak percaya pada perkataan dokter, kocoba meyakinkan diriku… ya Allah akhirnya Kau ambil juga dia dariku. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…

Tubuhku lemas, lunglai, aku semaput di pelukan adikku yang datang menemani saat anakku kritis menjelang ajalnya 30 menit yang lalu. Kulihat waktu menunjukkan pk 21.30, 22 Januari 2008.
Dalam beberapa saat aku menangis, dia satu-satunya anakku akhirnya harus pergi juga. Aku coba meraih kekuatan dengan memeluk jasadnya. Aku mencoba menguatkan diri dengan menciumi tubuhnya dan subhanallah…kucium harum tubuhnya, sangat harum sekali…bahkan 3 orang adik yang menemaniku mencium harum yang sama, harum khas yang hanya bisa ditimbulkan karena kesyahidan.
Perlahan tapi cukup bisa didengar beberapa sahabat yang saat itu langsung datang mendengar anakku meninggal, salah seorang adikku berkata, “Rosululloh bersabda, “man mata fil bathni fahuwa syahidun, dan orang yang meninggal karena sakit perut dia syahid” dan aku bersaksi saat ini aku mencium harum tubuh syahidnya keponakanku karena diare yang dideritanya.”

Dalam kesedihan aku mengaminkan ucapannya. Diare memang pemicu yang menyebabkan glucosanya drop sampai 13mg/dl dan oksigennya turun drastis. Kekuatanku kembali, meski masih menangis aku sanggup menggendong jasad anakku sampai pulang ke rumah bahkan ketika keesokan paginya aku sanggup memangku jasad anakku ketika dimandikan.

Setelah pemakaman lewat 2 hari, rumahku kembali sepi, sanak saudaraku kembali ke rumah mereka masing-masing. Aku larut dalam dukaku tiap kali memandang foto anakku, aku menangis dan menangis, sampai adikku berinisiatif menyimpan sementara semua foto, mainan, benda-benda dan pakaian anakku di rumah salah seorang saudaraku.

Aku mencoba mengatasi duka dengan menenggelamkan diri di perpustakaan pribadiku. Larut dalam buku-buku bacaan. Kucoba mencari hikmah dari kematian anakku. Lembar demi lembar halaman, buku demi buku kubaca hingga sering aku tertidur bertumpukan buku-buku yang kubaca.

Dua pekan berlalu, aku terus mencari dan mencari hikmah agar dapat melebur dukaku menjadi selarik bahagia, untuk menepis tangisku agas menjelma seulas senyum di bibir dan hatiku. Saat mataku teramat sangat lelah akibat kupaksakan mengakomodasi bacaan, saat letih mendera tubuh setelah berhari-hari berkutat dengan buku-buku kutemui sebaris kata yang…..pllllaaassshhhhh…..memecah dukaku, menepis tangis menjadi syukur. kalimat itu adalah “Sesungguhnya bila seorang ibu mendapatkan kematian putranya, lalu ia mengucapkan hamdalah dan istirja, maka Allah akan membangunkan Baitul-Hamd baginyadi surga” (HR: Tirmidzi dan Ahmad)

Subhanallah…masya allah…betapa Allah sayang padaku. Aku belum lagi berbuat kebaikan yang banyak, tapi Allah menganugrahkan padaku janji yang pasti, SURGA…siapa yang tak hendak menuju dan mendiaminya?

Aku bangkit dari dukaku, kuhapus airmataku dan kutekadkan buat menghadapi hari-hari ke depan yang kutahu masih teramat panjang. Allah telah mengambil putraku, tapi digantikan dengan surga untukku. Ya Rahman…betapa maha kasih Engkau…telah kau siapkan surga untukku, dan telah kau siapkan putraku untuk menjemputku di pintu surgamu…maka adalah tugasku membuka pintu surgamu dengan perbuatan baik yang akan memberiku kemudahan-kemudahan untuk menujunya.

Aku mulai menata hari-hariku, hidupku, mengoperasionalkan lagi klinik yang kututup selama 2 pekan. Meski kadang masih luruh air mata karena rinduku pada anakku, tapi airmata justru jadi pelecut asa dalam tangis rinduku.

Satu pekan sudah aku berkutat lagi dengan klinik dan aneka pasien yang datang padaku. Lagi dan lagi Allah tak pernah biarkan diriku untuk diam tanpa “membaca.” Dikirimkannya padaku pasien-pasien cilik, bayi-bayi dan anak-anak dengan beragam penyakit. Betapa mereka menderita berbilang bulan dan tahun dalam penyakit mereka. Betapa orang tua mereka mengalami mas-masa sulit dan ujian kesabaran menghadapi sakit anak-anak mereka.Betapa mereka belum lagi tahu kesudahan dari penyakit anak-anak mereka…ooo ya Rahim….betapa aku layak bersyukur, anakku tak lama dalam derita sakitnya, betapa aku harus bersyukur tak payah ujianku dalam sakit anakku, betapa aku harus sangat bersyukur dengan kesudahan yang baik dari sakitnya anakku dan betapa..ya Robb…kau beri imbalan dengan janji surgamu atas musibah yang kuhadapi.

Belum lagi aku selesai “membaca” ayat-ayat kauniyahNya, seorang ukhti datang padaku dengan tausyiahnya “Kita telah menjual diri kita kepada Allah, dihadapan kita tidak ada pilihan lain kecuali menyerahkan apa yang telah kita jual kepada yang membelinya. Dan ketika pembeli telah menerima apa yang dibelinya maka dia berhak melakukan apa saja atas apa yang dibelinya, bisa dia memelihara ataupun membunuhnya, bisa memakaikan pakaian terindah atau membuatnya telanjang. Layakkah kita marah jika seseorang membeli seekor kambing dari kita lalu dia menyembelih kambing yang dibelinya? Pantaskah kita gundah karenanya? Sesungguhnya Allah telah membeli jiwamu dari dirimu, dan engkau berusaha menyerahkan barang yang sudah dibeli dan menerima harga yang sangat pantas, dan janganlah menyerahkan barang dagangan yang ada aibnya, sedang engkau ingin menerima harga secara utuh, Dia lah yang berkuasa atas dirimu dan bukan dirimu sendiri.”

Aku tersungkur dalam sujud dan tangis syukurku. Ketika anakku lahir dalam segala kesulitan yang kualami aku telah meniatkan dan melisankan “Ya Allah, alhamdulillah atas anugrah anak laki-laki dalam hidupku, saksikan ya Robb, aku menjual anakku di jalanMu, jadikan dia anak yang sholeh, tumbuh kembangkanlah dia dengan sehat, jadikan dia mujahid penegak din MU dimuka bumi, syahidkan dia diakhir hidupnya, karena kujual dia padaMU seharga surgaMu”

Aku kian disadarkan bahwa Allah tak pernah salah dalam setiap kehendaknya, Dia telah membeli jiwa anakku dengan harga yang kuminta. Fabbi ayyi a’lla i robbikuma tukadzibaaan…maka nikmat Robb mu yang mana yang bisa kau dustakan?Masya Allah…

Senyum kian rekah di bibirku. Pelangi kian rona di jiwaku. aku menapaki hari-hari hingga saat aku menuliskan semua ini dengan sebuah kesyukuran yang amat sangat. Duka telah mengajarkan padaku banyak hal. Duka telah menjadi sekolah buatku belajar lebih baik dengan guru yang maha baik, maha segalanya…Allah, Ar Rahman, Ar Rahim…Dia lah guru terbaik dalam kehidupanku.

Lihat..bukankah kesedihan itu indah, manakala kita mampu menyingkap lapis demi lapis hikmah yang tersembunyidi dalamnya. Meski demikian kita harus berjuang utnuk mendapatkan keindahan di balik setiap kesedihan. Meski kita harus berjuang untuk mengalahkan pikiran negatif dari cupet dan sempitnya akal dan nafsu kita yang seringkali membujuk kita untuk lunglai, layu, terpuruk dalam kesedihan.
Kesedihan itu indah, karena Allah Maha Indah dalam setiap kehendakNya.

(Rampung kutulis, 24 Februari 2008, pk 11.43, dengan segala persembahan cinta buat Robbku dan anakku Daffa Rifqy Rizqurrahman, “tunggu ummi di pintu jannah ya nak…”)

Tsabita Adzimatillah
eramuslim.com

Oleh: firman prawiradisastra | Februari 12, 2008

Selamat jalan sahabat…(An inspiring article 3)..

oleh Setta
Obituary
Bagi pembaca rubrik “Oase Iman”eramuslim. Com yang telah membaca artikel saya sebelumnya, yaitu”Lin, Aku Belajar Banyak Darimu” yang saya tulis pertengahan Januari 2007 silam dan baru dimuat tanggal 18 November 2007 kemarin, saya informasikan bahwa pada penghujung Oktober 2007 yang baru lalu, Lin telah kembali ke haribaan-Nya.

Hix3 aq ingin hidup lama.
Trllu serakahkh aq jk aq brhrap utk hidup?
Jk mmng hrs mati cpt, aq sgt ingin jd rumput di surga nanti.
Bisa g y? Aq g mngkin jd bidadari.
Aq cm mo jd rumput.
11:29:45 12/25/2006

Saya mengenalnya sejak 2003 silam. Seorang gadis Chinese. Lin atau Alin, saya lebih suka memanggilnya begitu saat menyapanya langsung. Nama lengkapnya Ita Yoanita Afrianty Lin Che Ying. Dia mendeskripsikan arti namanya itu lewat sebuah sms:
Dari dlu aq tau klo arti namaq ad hubngnny dg cinta Tp aq br tau klo artiny trnyta “Tuhan adlh Cinta. ”

Asal namaq dr bhs Yunani.
Papa ingin aq sll mnbarkn cinta ksh di mnpun kuberada.
20:56:14 01/29/2006

Saya tidak tahu pasti, itu arti untuk kata yang manakah dari namanya yang panjang itu. Lin salah satu sahabat terbaik yang pernah saya miliki. Kami hampir tak pernah berjumpa, tapi kami sering berkomunikasi via sms dan email.
Kemarin sore (06/11), tepat pukul 16:19:56 WIB, Hp saya berdering. Dari seorang sahabat akrab. Mengabarkan—atau lebih tepatnya meminta klarifikasi, “Apa benar Lin telah wafat seminggu yang lalu setelah operasi?”
Saya tercenung—tepatnya kaget.
Dan, ternyata berita itu benar adanya. Setelah konfirmasi ke salah seorang anggota keluarganya, benar Lin telah kembali ke haribaan-Nya, setelah sebelumnya menjalani operasi kanker otak yang sudah dideritanya sejak beberapa tahun silam.
Innaa lilLaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.
AlLaahumma ighfirlahaa, warhamhaa,
wa ‘aafihii wa’fu ‘anhaa.
Aamiiin.
Semoga kembali ke sisi-Nya adalah yang terbaik untukmu, Sahabat.

Saya masih menyimpan sms terakhirnya—benar-benar yang terakhir darinya:

U. Seta aq prgi skrg. jga dirimu bǽk2.
brjnjilh u sll bhagia. Maafkn aq.
trmksh ats smuaň. Hix3 aq prgi. Asswrb.
11:19:33 10/26/2007

Kami—sahabat-sahabatmu, akan mengenangmu sebagai sosok yang selayaknya kami kenang. Kesungguhanmu “melahap” 7 juz (baca: tujuh juz) Al-Quran dalam semalam di malam-malam i’tikaf Ramadhan terakhirmu, akan kami coba ikuti, Lin.
Selamat datang di haribaan-Nya. Selamat berjumpa dengan kekasih sejatimu. Kami yakin, itu tempat yang layak untukmu. Bahkan, tidak sekadar menjadi rumput di sisi-Nya. Insya Allah. Amin.

Beberapa sms Lin yang masih tersimpan di sebuah folder CPU saya:

A tree is known by its fruit, a man by his deed.
A good deed is never lost, he who saws courtesy reaps friendship, n he who plant kindness gathers love.
11:59:32 02/28/2007

I breathed a song into the air.
It fell 2 earth I knew not where,
and d song from the beginning 2 end,
I found again in the heart of a friend.
14:25:46 03/02/2007

Hiasilah mimpimu dengan tetesan air sembahyang.
Lelapkan matamu dengan alunan zikrullah.
Selimutkan dirimu dengan kalimah syahadah.
Alaskan tidurmu dengan do’a.

19:12:03 03/21/2007

Pagi basah, 7 November 2007 07:29
http://setta. Blogs.friendster. Com/the_way_to_paradise/

Oleh: firman prawiradisastra | Februari 12, 2008

Lin aku belajar banyak darimu (an inspiring article 2)…bersambung….

Oleh Setta
Anda tahu penyakit gegar otak? Pasti tahu, minimal pernah mendengarnya karena cukup banyak orang yang pernah mengalaminya. Tetapi kalau kanker otak, kanker darah, TBC usus? Mungkin ada di antara kita yang baru mendengarnya kali ini. Ya, karena hanya ‘orang-orang pilihan’ saja yang diberi ‘kesempatan’ untuk ‘menikmatinya’. Dan seorang sahabat karib saya, Lin—begitu saya lebih suka menyapanya, adalah salah satu dari sedikit ‘orang pilihan’ yang menderita ketiga penyakit itu sekaligus.

Jujur saya tidak dapat membayangkan apa yang dia rasakan, tetapi perasaan saya dapat meraba bagaimana penderitaanya. Namun sikap ceria dan tegarnya yang selalu ia tampilkan di hadapan kami—sahabat-sahabat dekatnya, saat-saat kondisinya membaik, sesungguhnya itu yang ingin saya bagi dengan Anda kali ini. Bahkan saat ia terkapar di tempat tidur pun, ia masih sempat mengungkapkan keceriaannya pada kami lewat pesan singkat.

“Aku kena TBC usus. Keren ya namanya? He3. Tapi kok gak sengetop aku ya? Perlu dianalisa nih! Oya, aku turun 7 kg! Pantas klo jalan melayang-layang. But don’t worry! I’m gonna be OK! Sure! Insy4W! Coz I know God with me…”

Saya kadang hanya tersenyum simpul membaca sms-sms darinya. Kemudian me-reply-nya dengan kata-kata penyemangat. Tapi, nun jauh di lubuk hati, ada perasaan sendu mengiris rasa kemanusiaan saya. Dan mata saya memanas. Saya ingin menangis—semoga bukan sebuah ekspresi cengeng yang tidak pada tempatnya. Lin, kau masih sempat bercanda tentang apa yang menimpamu kini?

Ia terlahir sebagai bayi prematur dengan kekebalan tubuh sangat rentan. Saat bayi ia harus diinkubasi, bernafas dengan bantuan selang oksigen. Ia pernah koma berhari-hari, kehilangan nafas 7 jam, muntah darah dari hidung dan telinga hanya lantaran serangan demam berdarah. Beberapa kali harus operasi amandel karena radang tenggorokan akut. Satu matanya pernah hampir tidak dapat melihat lagi akibat suhu tubuhnya di atas suhu tubuh normal berhari-hari tidak turun-turun—thypus. Penyakit paru-paru, jantung, pernah juga ia derita. Pingsan? Jangan tanya berapa kali ia sudah berada dalam kondisi itu—terlalu sering.

Tetapi dialah Lin, salah satu sahabat terbaik kami, di saat-saat derita tak henti menggerogoti tubuhnya, ia masih ingat dengan kondisi saudara-saudara seiman yang ditimpa musibah. Jiwa kemanusiaannya sangat peka.

“Bagaimana aku makan, jika membayangkan saudara-saudara di pengungsian? Mereka sudah makan belum ya?”

Di lain waktu ia menulis,
“Aku merasa seperti penjahat. Di luar sana banyak saudara yang kena musibah, kenapa aku malah tiduran! Aduuh, aku pengin ke Palestin, Libanon, Pangandaran. Pasti keren. Kapan aku bisa ke sana?”

Untuk sms-nya yang satu ini, saya membalasnya dengan sebuah pertanyaan retoris. Berharap ia menyadari posisinya yang mustahil untuk melakukan semua itu. Meskipun saya tahu pasti, apa yang ia ucapkan sepenuhnya ia sadari tidak akan pernah bisa ia lakukan. Tetapi semata wujud dari kecintaannya kepada sesama yang mendalam. Bukti ketulusan hatinya ingin menolong orang lain yang menderita—meskipun sesungguhnya ia sendiri sangat boleh jadi lebih menderita dari orang-orang yang dikasihaninya itu.

“Seorang buta memaksakan diri berburu ke hutan berbekal sepucuk pistol. Lama ia menunggu di balik belukar hingga telinganya menangkap suara semak berderak-derak tak jauh darinya. Ia yakin, rusa muda yang dinantinya. Dengan naluri, ia membidik: sebuah letusan, sebuah lenguhan pendek. Ia bersorak girang. Tak jauh darinya, sesosok anak manusia tanpa nyawa. Do you know why?” tulis saya coba lebih menenangkannya.

Di sela jeda sakitnya, ia juga sempat bercerita. “Aku lihat film sangat bagus. Pemuda yang dilahirkan beda dengan orang lain. Tidak bisa terkena cahaya apapun—apalagi cahaya matahari. Dia hanya bisa hidup tiga hari jika terkena cahaya. Karena kulitya akan terkelupas dan kemudian akan mati mengenaskan. Semua dokter di dunia tidak tahu obatnya. Dia hidup dalam kegelapan. Jendela rumahnya saja berlapis tiga. Takut ada cahaya masuk. Setelah dewasa ia sadar, karena dirinya orang tuanya ikut terbiasa dalam kegelapan. Dia merasa bersalah. Tapi ia juga ingin tahu dunia luar. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk hidup tiga hari dan merasakan hidup yang sesungguhnya. Awalnya orang tuanya tidak setuju. Tapi melihat anaknya bahagia hidup seperti anak lain; melihat laut, keramaian orang, berteman, jatuh cinta, berkelahi, akhirnya mereka setuju juga. Tiga hari berlalu, waktunya tiba. Pemuda itu pun mati dengan bahagia telah melihat dunia.”

Saya tersenyum miris membacanya. Tidakkah cerita itu ditujukan khusus untuk dirinya sendiri dan bukan untuk saya?
Ah, Lin, mahasiswi semester 7 sebuah PTN berjilbab rapi dengan IPK cum laude itu ternyata hanyalah manusia biasa. Belakangan ia pernah mengeluh “bosan” dengan hari-harinya yang tak lepas dari sakit yang silih berganti menghampiri dan ketergantungan pada obat yang harus ‘dinikmati’-nya setiap 4 jam sekali. Tapi aku sangat yakin, Allah sangat sayang padaku. Jika tidak, mana mungkin Allah akan memberiku kesempatan hidup dengan kondisi kesehatan seperti saat ini? Begitu hampir selalu di akhir keluhan yang terlontar dari bibirnya.

Aku ingin hidup lama. Terlalu serakahkah aku jika aku berharap untuk hidup? Jika memang harus mati cepat, aku sangat ingin jadi rumput di surga nanti. Bisa tidak ya? Aku tidak mungkin jadi bidadari. Aku cuma mau jadi rumput…

Tetapi tahukah Anda, sejak hampir sepekan lalu Lin sedang menjalani perawatan intensif di Queen Elizabeth Hospital, Singapore, setelah komplikasi penyakitnya kembali kambuh. Mari kita sama-sama menengadahkan tangan sejenak, memohon kepada-Nya semoga Allah memberikan keputusan terbaiknya untuk salah seorang sahabat yang telah banyak mengajari saya—juga Anda, tentang perjuangan menikmati hidup dalam belitan penyakit yang belum pernah kita derita itu.

Jangan, cukup aku saja yang mengalaminya, katanya pada saya suatu ketika.

Yogyakarta, 17 Januari 2007 @ 14:21:37 Teriring do’a tulus kami untukmu, Lin.
setta_81@yahoo.com
Itulah salah satu sms terakhir darinya yang masuk ke hp saya beberapa waktu lalu yang membuat mata saya mengembun seketika. Tidak, kau sangat layak menjadi bidadari di surga kelak, Lin, insya Allah.

Oleh: firman prawiradisastra | Februari 11, 2008

An Inspiring Article….

(INSPIRING ARTICLE) Learn to live

Dunia berputar dengan cepat…… secepat kita mengedipkan
mata…….secepat kita membalikkan telapak tangan…..

Wanderlei Luxemburgo pelatih cerdas, ahli strategi, sangat disanjung
pada awal kedatangannya ke Real Madrid …… tak disangka-sangka enam
bulan kemudian dipecat dengan caci maki….. pulang ke Brasil hanya
membawa satu tas….baju kotor…. karena tak mampu bayar binatu di
Madrid ……

Titus…… Pangeran Romawi yang gagah berani, thn. 70 masehi dia
hancurkan kebudayaan Yahudi…. enam bulan kemudian mati oleh sipilis
karena seleranya
tak hanya pada wanita??…. ..

John Barxton….. . Akhirnya mengemis pada Bill Gates mohon pekerjaan
bagi anaknya….. .. Bill Gates orang yang dia pecat enam tahun lalu dari
perusahaannya saat Bill Gates tak sengaja menyenggol dengan tongkat
mobil dinasnya (Bill Gates saat itu memakai tongkat untuk berjalan) …..

Marie Goretti kepala biara karmel prancis merasa tak percaya kalau
Claudia Suzzane diminta untuk memimpin Ordo Biarawati tersebut di
seluruh dunia termasuk Prancis….. . Claudia Suzzane enam tahun lalu
adalah biarawati muda yang dia rekomendasikan untuk di”buang” ke Mesir
dan melewati hidupnya di biara gurun pasir dengan iklim yang keras
karena bertentangan dengan dirinya….. Marie Goretti, tadi pagi dalam
Misa Pelantikan Claudia, mencium tangan Claudia sebagai tanda hormat
pada pimpinan tertinggi Ordo tersebut…. Claudia masih tetap tersenyum
dengan murah hati seperti saat dia meninggalkan Prancis dan meminta
Marie Goretti untuk tidak mencium tangannya… .. Marie Gorretti hanya
bisa menitikkan airmata haru..

Willy sangat berterimakasih pada Sarno, pagi tadi Sarno menyelamatkan
nyawa anaknya Caecil dengan membawanya ke Rumah Sakit Mitra Keluarga
Bekasi, anaknya ditabrak lari sepeda motor saat akan menyebrang dekat TK
tempatnya bersekolah, saat itu Sarno kebetulan melintas dan segera
menolongnya, jika terlambat saja, maka Caecil akan lumpuh dan kehilangan
daya ingatnya, atau bahkan meninggal… … Sarno, mantan Office Boy di
Kantor Willy, saat itu sebagai Kepala Bagian Umum Willy meminta Sarno “keluar dengan hormat”
karena Sarno menjalin kasih dengan Ully resepsionis pada kantor tersebut
dan berencana menikah, akhirnya Sarno dan Ully memutuskan untuk keluar
dan membangun usaha kecil-kecilan. … “No, apa yang bisa saya bantu
untuk membalas jasamu? engkau sudah bekerja? dimana? bagaimana kabar
Ully?’ demikian Willy mencecar Sarno dengan pertanyaan.. … Sarno hanya
tersenyum dan menitikkan airmata, ia tidak ingin menyakiti hati
Willy…… Saat ini, atas nama almahumah Ully yang meninggal saat
melahirkan, Sarno dan kedua anak kembarnya yang masih kecil adalah
pemegang 93.5% saham perusahaan tempat Willy bekerja dan beberapa grup
perusahaan karena usaha kerasnya…. .dan dia tetap tersenyum
seperti saat ia berpamitan dengan Willy enam tahun lalu…….. …

Manusia bisa berkehendak dan bertindak, tapi Tuhan punya rencanaNYA.
Enam tahun? Enam bulan? Enam pekan? Enam hari? Enam Jam? Enam menit?
Enam detik? ……….. secepat apakah DIA akan membalikkan anda jika
anda tak tahu diri?

“Semoga kita termasuk orang – orang yang bersyukur atas yang
diberikanNya. ….”

Tulisan Sebelumnya »

Kategori